Bagaimanakah sosok muslim yang hanya sebatas pengakuan ?
yaitu mereka mengaku sebagai orang muslim,tetapi sama sekali tidak mengerti dan tidak menjalankan ajaran Islam.Mereka mengenal islam hanya namanya saja.
Golongan orang ini memang berikrar,memberi pengakuan dengan dua kalimat syahadat.Namun hal itu dilakukan ketika berhadapan dengan penghulu karena keperluan menikah.sebagai muslim sebatas tercatat dalam kartu identitas kependudukan.
Aktivitas islami yang diikuti biasanya yang bersifat umum.kadang-kadang suka datang jika diundang pada pengajian umum.tetapi terlebih dahulu ditanyakan,apakah penceramahnya cukup humoris.karena jika tidak,ia merasa berat untuk mengikuti petuah.pantatnya tidak betah duduk berlama-lama mendengarkan orang berceramah dan mengemukakan dalil.Namun jika penceramahnya cukup humoris dan banyak menimbulkan canda,mereka sangat menyukai sehingga pulang dari pengajian yang didapat adalah lawakan-lawakan yang lucu.
Disaat-saat tertentu mereka memang ikut dalam kegiatan islami yang sifatnya umum.Namun kadang-kadang mereka juga benci kepada islam yang dianggap cukup mengganggu dan membatasi kebebasannya.meskipun demikian,mereka tidak suka jika dianggap bukan orang muslim.Inilah sosok umat muslim yang sebatas pada pengakuan belaka.Mereka memang bersyahadat,tetapi enggan menjalankan perintah ALLAH.
Jumat, 26 Juli 2013
MUSLIM SEBATAS PENGAKUAN
Lokasi:
Indonesia
Senin, 22 Juli 2013
Puasa Ramadhan bukan hanya sekedar agenda tahunan
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, hampir setengah dari jumlah ibadah puasa yang harus kita lakukan sudah berlalu. Sampai disini, sepertinya niat puasa kita diawal perlu dipertanyakan lagi. Apakah persiapan kita menyambut datangnya bulan ini kemarin sudah matang, bagaimana kita menjalani puasa sehari hari, dan apa yang harus kita dapatkan setelah menjalani puasa sebulan penuh nanti.
Kadang meskipun kita mengetahui dan sering mendengar bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang istimewa, bulan ampunan, bulan penuh berkah, dan bulan suci tetapi hanya sebatas didengar saja tanpa ada rasa penasaran yang mendalam ingin mengetahui dan mempelajari lebih lanjut sehingga kita bisa memanfaatkan bulan ini dengan sebaik mungkin.
Sebagian orang mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci ini dengan persiapan yang maksimal, sehingga ia tahu bagaimana seharusnya dalam berpuasa. Sebagianya lagi biasa biasa saja. istilahnya, jalani saja seperti tahun tahun sebelumnya. Karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat islam untuk melaksanakan. Mudah memang ketika kita berpuasa hanya menjalankan saja, dengan tidak makan dan minum, toh kadang banyak orang yang dalam keseharianya telat makan, males makan dan bahkan ada yang mogok makan.
Tetapi sesederhana itukah kita memaknai puasa? Jawabanya tidak, karena dalam berpuasa dibutuhkan semua yang serba esktra dibanding bulan bulan sebelumnya. Ekstra tenaga, ekstra kesabaran, ekstra ibadah dan sebagainya. Sejenak kita ingat lagi makna puasa. makna dasar puasa adalah menahan, menahan dari segala yang biasa kita lakukan dibulan bulan sebelumnya. Seperti halnya menahan untuk tidak makan dan minum, untuk tidak berbicara yang tidak bermanfaat, menahan tidak mendengar gosip dan sejenisnya, tidak melihat maksiat, dan untuk tidak melakukan perilaku perilaku tercela lainya. Intinya ketika berpuasa kita harus bisa menahan nafsu buruk yang dilarang oleh Allah sehingga kita bisa meningkatkan taqwa. Apakah selama kita berpuasa sudah bisa menahan semua itu ? mari kita tanyakan pada diri kita sendiri.
Diperlukan pikiran jernih agar kita bisa memahami dan menghayati secara mendalam tentang puasa yang sedang kita jalani. Ketika kita berpuasa merasakan kelaparan, harusnya disini ada kesadaran, bagaimana keadaan orang miskin selama ini yang hidup serba kekurangan sehingga sering tidak makan. Pun ketika kita sedang melakukan buka puasa maupun sahur, saat didepan kita banyak menu yang terhidang harusnya juga mengingatkan kita pada orang orang disekeliling kita. Sepertinya masih banyak diantara saudara kita, tetangga maupun orang islam diluar sana yang tidak bisa melakukan buka puasa dan sahur seberuntung kita.
Jika sesama orang islam adalah suadara satu dengan yang lainya, bagaikan sebuah bangunan ataupun tubuh. Sehingga ketika satu bagian organ tubuh sakit yang lain akan ikut merasakan, apakah rasa itu masih ada pada diri kita sampai sekarang ? apakah benar benar kita merasakan lapar yang sama seperti yang mereka rasakan?
Kesadaran akan tumbuh dan ada melalui penghayatan, jika kita tidak pernah menghayati puasa yang kita lakukan, maka kesadaran pun tidak akan ada dalam diri kita, apalagi rasa peduli yang yang tumbuhya juga melalui penghayatan. Dan bila rasa lapar tidak mengingatkan kita pada mereka orang orang miskin yang biasa kelaparan, masih tidak bisa menahan bicara yang tidak bermanfaat, juga masih suka mendengar gosip dan masih memelihara perilaku perilaku tercela lainya. kalau puasa juga tidak memberi efek positif pada pelakunya, meskipun semua ibadah sunah jalan terus, maka puasa itu hanya sekedar rutinitas belaka.
Puasa adalah ibadah pribadi seorang hamba pada Khaliqnya, bukan seperti halnya acara mogok makan yang dalam intinya akan menuntut sesuatu. Tetapi puasa sebagai bentuk ketaatan, kepatuhan, pengabdian dan cinta seorang hamba pada Penciptanya. Bila cinta sesama manusia saja kadang diartikan begitu dalam dan tidak bisa diungkapkan dengan kata kata, maka sudah seharusnya cinta seorang hamba pada Penciptanya harus lebih dari itu. jadi dalam berpuasa dituntut adanya keikhlasan dan kejujuran, sehingga tidak ada keterpaksaan dan kepura puraan.
Jika orang yang melakukan puasa diembel embeli dengan sesuatu yang bersifat luar, seperti halnya berbaju muslim, pesta buka bersama, dan hal lain yang tampak yang itu dilakukan hanya ketika orang tersebut berpuasa maka orang yang berpuasa belum bisa menjiwai arti puasa yang sebenarnya.
Dan kalau puasa itu adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan, juga bukan sekedar rutinitas maka kita akan sangat rugi ketika satu bulan penuh berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa apa, karena semua yang kita lakukan dibulan puasa tidak membekas dalam diri kita untuk kehidupan dibulan bulan mendatang.
Ada baiknya juga mungkin kita melihat lagi jadwal kita disetiap bulan ramadhan, kita bandingkan jadwal di ramadhan ramadhan tahun lalu dengan yang sekarang. Ada penurunan atau peningkatan, kalau ada penurunan kita tingkatkan dan jika ada peningkatan kita pertahankan untuk bisa melaksanakan semaksimal mungkin apa yang sudah tertera dijadwal. Dari sini kita juga bisa menginstropeksi diri, sehingga bisa mengukur kekurangan kekurangan kita dalam menjalankan ibadah.
Dan bila kita dalam berpuasa sudah berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, tetapi sampai saat ini masih belum bisa merasakan “nikmatnya” puasa, sepertinya ada yang salah dalam diri kita. Perlu perenungan yang mendalam dan segera mencari solusi, sebelum bulanpuasaberlalu. Agar kita tidak kehilangan moment ini yang datangnya hanya setahun sekali.
Selagi masih diberi waktu dan kesempatan, mari kita manfaatkan ramadhan kali ini dengan baik. Jangan jadikan puasa ramadhan hanya sebagai agenda rutinitas tahunan, yang kita tidak bisa melakukan ibadah lebih seperti yang lainya dan tidak bisa menjiwai makna puasa yang sebenarnya. Rasa syukur yang sangat mendalam ketika saat ini kita masih diberi kesempatan bertemu lagi dengan bulan ramadhan, kita jadikan puasa sebagai salah satu media untuk lebih mendekatan diri pada-Nya. Sebagai waktu untuk menjernihkan pikiran, menjernihkan hati dan juga untuk berbagi.
Kadang meskipun kita mengetahui dan sering mendengar bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang istimewa, bulan ampunan, bulan penuh berkah, dan bulan suci tetapi hanya sebatas didengar saja tanpa ada rasa penasaran yang mendalam ingin mengetahui dan mempelajari lebih lanjut sehingga kita bisa memanfaatkan bulan ini dengan sebaik mungkin.
Sebagian orang mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci ini dengan persiapan yang maksimal, sehingga ia tahu bagaimana seharusnya dalam berpuasa. Sebagianya lagi biasa biasa saja. istilahnya, jalani saja seperti tahun tahun sebelumnya. Karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat islam untuk melaksanakan. Mudah memang ketika kita berpuasa hanya menjalankan saja, dengan tidak makan dan minum, toh kadang banyak orang yang dalam keseharianya telat makan, males makan dan bahkan ada yang mogok makan.
Tetapi sesederhana itukah kita memaknai puasa? Jawabanya tidak, karena dalam berpuasa dibutuhkan semua yang serba esktra dibanding bulan bulan sebelumnya. Ekstra tenaga, ekstra kesabaran, ekstra ibadah dan sebagainya. Sejenak kita ingat lagi makna puasa. makna dasar puasa adalah menahan, menahan dari segala yang biasa kita lakukan dibulan bulan sebelumnya. Seperti halnya menahan untuk tidak makan dan minum, untuk tidak berbicara yang tidak bermanfaat, menahan tidak mendengar gosip dan sejenisnya, tidak melihat maksiat, dan untuk tidak melakukan perilaku perilaku tercela lainya. Intinya ketika berpuasa kita harus bisa menahan nafsu buruk yang dilarang oleh Allah sehingga kita bisa meningkatkan taqwa. Apakah selama kita berpuasa sudah bisa menahan semua itu ? mari kita tanyakan pada diri kita sendiri.
Diperlukan pikiran jernih agar kita bisa memahami dan menghayati secara mendalam tentang puasa yang sedang kita jalani. Ketika kita berpuasa merasakan kelaparan, harusnya disini ada kesadaran, bagaimana keadaan orang miskin selama ini yang hidup serba kekurangan sehingga sering tidak makan. Pun ketika kita sedang melakukan buka puasa maupun sahur, saat didepan kita banyak menu yang terhidang harusnya juga mengingatkan kita pada orang orang disekeliling kita. Sepertinya masih banyak diantara saudara kita, tetangga maupun orang islam diluar sana yang tidak bisa melakukan buka puasa dan sahur seberuntung kita.
Jika sesama orang islam adalah suadara satu dengan yang lainya, bagaikan sebuah bangunan ataupun tubuh. Sehingga ketika satu bagian organ tubuh sakit yang lain akan ikut merasakan, apakah rasa itu masih ada pada diri kita sampai sekarang ? apakah benar benar kita merasakan lapar yang sama seperti yang mereka rasakan?
Kesadaran akan tumbuh dan ada melalui penghayatan, jika kita tidak pernah menghayati puasa yang kita lakukan, maka kesadaran pun tidak akan ada dalam diri kita, apalagi rasa peduli yang yang tumbuhya juga melalui penghayatan. Dan bila rasa lapar tidak mengingatkan kita pada mereka orang orang miskin yang biasa kelaparan, masih tidak bisa menahan bicara yang tidak bermanfaat, juga masih suka mendengar gosip dan masih memelihara perilaku perilaku tercela lainya. kalau puasa juga tidak memberi efek positif pada pelakunya, meskipun semua ibadah sunah jalan terus, maka puasa itu hanya sekedar rutinitas belaka.
Puasa adalah ibadah pribadi seorang hamba pada Khaliqnya, bukan seperti halnya acara mogok makan yang dalam intinya akan menuntut sesuatu. Tetapi puasa sebagai bentuk ketaatan, kepatuhan, pengabdian dan cinta seorang hamba pada Penciptanya. Bila cinta sesama manusia saja kadang diartikan begitu dalam dan tidak bisa diungkapkan dengan kata kata, maka sudah seharusnya cinta seorang hamba pada Penciptanya harus lebih dari itu. jadi dalam berpuasa dituntut adanya keikhlasan dan kejujuran, sehingga tidak ada keterpaksaan dan kepura puraan.
Jika orang yang melakukan puasa diembel embeli dengan sesuatu yang bersifat luar, seperti halnya berbaju muslim, pesta buka bersama, dan hal lain yang tampak yang itu dilakukan hanya ketika orang tersebut berpuasa maka orang yang berpuasa belum bisa menjiwai arti puasa yang sebenarnya.
Dan kalau puasa itu adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan, juga bukan sekedar rutinitas maka kita akan sangat rugi ketika satu bulan penuh berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa apa, karena semua yang kita lakukan dibulan puasa tidak membekas dalam diri kita untuk kehidupan dibulan bulan mendatang.
Ada baiknya juga mungkin kita melihat lagi jadwal kita disetiap bulan ramadhan, kita bandingkan jadwal di ramadhan ramadhan tahun lalu dengan yang sekarang. Ada penurunan atau peningkatan, kalau ada penurunan kita tingkatkan dan jika ada peningkatan kita pertahankan untuk bisa melaksanakan semaksimal mungkin apa yang sudah tertera dijadwal. Dari sini kita juga bisa menginstropeksi diri, sehingga bisa mengukur kekurangan kekurangan kita dalam menjalankan ibadah.
Dan bila kita dalam berpuasa sudah berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, tetapi sampai saat ini masih belum bisa merasakan “nikmatnya” puasa, sepertinya ada yang salah dalam diri kita. Perlu perenungan yang mendalam dan segera mencari solusi, sebelum bulanpuasaberlalu. Agar kita tidak kehilangan moment ini yang datangnya hanya setahun sekali.
Selagi masih diberi waktu dan kesempatan, mari kita manfaatkan ramadhan kali ini dengan baik. Jangan jadikan puasa ramadhan hanya sebagai agenda rutinitas tahunan, yang kita tidak bisa melakukan ibadah lebih seperti yang lainya dan tidak bisa menjiwai makna puasa yang sebenarnya. Rasa syukur yang sangat mendalam ketika saat ini kita masih diberi kesempatan bertemu lagi dengan bulan ramadhan, kita jadikan puasa sebagai salah satu media untuk lebih mendekatan diri pada-Nya. Sebagai waktu untuk menjernihkan pikiran, menjernihkan hati dan juga untuk berbagi.
Minggu, 21 Juli 2013
PENGERTIAN TATA CARA SHOLAT TAHAJJUD
Sholat tahajjud adalah sholat sunnah yang dikerjakan
pada waktu malam hari, di samping sholat wajib(sholat fardhu 5 waktu dan sholat
jum’at). Adapun sholat sunnah apabila dikerjakan mendapatkan pahala, apabila
tidak dikerjakan tidak berdosa. Sholat sunnah Tahajjud termasuk sholat sunnah
mu’akad. Sholat sunnah ada 2 macam, yaitu :
Sholat
sunnah Mu’akad (sholat sunnah yang dikuatkan oleh syara’).
Sholat
sunnah Ghairu Mu’akad (sholat sunnah yang tidak mu’akad).
Adapun sholat tahajjud (sholat malam) itu, adalah
suatu macam amal yang senantiasa dijadikan “Amalan Wirid” oleh Rasulullah SAW,
para sahabat, “Ulama dan Sholihin”. Sedikitnya 2 rakaat dan sebanyak-banyaknya
tidak terbatas, waktunya mulai waktu Isya’, sampai terbitnya fajar. Sholat malam
dapat disebut sholat Tahajjud, tetapi dengan syarat apabila dikerjakan sesudah
bangun dari tidur malam, sekalipun tidurnya hanya sebentar. Jadi, kalau
dikerjakan tanpa tidur lebih dahulu, maka tidak disebut sholat tahajjud, tetapi
dinamakan sholat sunnah biasa seperti sholat Witir atau sholat Hajat dsb.
Pahala sholat tahajjud ini sangat besar, seperti
yang terdapat dalam Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 79 yang berbunyi :
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang
tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu
mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji”.(Al Isra’ :79).
1. Waktu untuk mengerjakan sholat tahajjud sama
dengan waktunya sholat Isya’ sampai sepanjang malam, ini adalah saat-saat yang
paling utama. Maka waktu malam yang panjang itu dapat kita bagi menjadi 3
bagian :
a.
Sepertiga Pertama, yaitu kira-kira dari jam 19.00 sampai dengan jam 22.00, ini
saat utama.
b.
Sepertiga Kedua, yaitu kira-kira dari jam 22.00 sampai dengan jam 01.00, ini
saat paling utama.
c.
Sepertiga Ketiga, yaitu kira-kira jam 01.00 sampai dengan masuknya waktu
Shubuh, ini adalah saat yang paling utama-utamanya.Demikian menurut Hadits
Rasulullah SAW sebagai berikut:
Artinya :
“Perintah Allah SWT turun ke langit dunia di
waktu tinggal sepertiga yang akhir dari waktu malam. Lalu berseru, adakah
orang-orang yang memohon (berdo’a) pasti Aku kabulkan, adakah orang yang
meminta, pasti akan Ku beri dan adakah yang mengharap/memohon ampunan, pasti
akan Ku ampuni baginya, sampai tiba waktu Shubuh”.
Sabda Rasulullah SAW :
Artinya :
Dari Abu Hurairah : Tatkala ditanya oleh Nabi
SAW : “Apakah sholat yang lebih utama selain sholat fardhu lima waktu?” Jawab
beliau : ”Sholat tengah malam”. (Riwayat Muslim dan lainnya).
2. Manfaat Sholat Tahajjud
Dalam
menunaikan sholat tahajjud, hasilnya bisa memberikan manfaat bagi orang yang
mengerjakannya, yaitu keselamatan dan kesenangan dunia dan akhirat, yaitu
antara lain sbb:
1. Wajahnya akan memancarkan cahaya keimanan.
2. Akan dipelihara oleh Allah SWT dirinya dari
segala macam marabahaya.
3. Setiap perkataannya mengandung arti dan diturut
oleh orang.
4. Akan mendapat perhatian dan kecintaan dari
orang-orang yang mengenalnya.
5. Dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah yang
bercahaya.
6. Diberi kitab amalnya ditangan kanannya.
7. Dimudahkan hisabnya.
8. Berjalan diatas shirath bagaikan kilat.
3. Kesimpulan Cara Sholat
Tahajjud
Sholat
tahajjud yang sering dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah 8 (delapan) rakaat
ditambah witir 3 (tiga) rakaat, jadi jumlahnya 11 (sebelas) rakaat, dengan
setiap 2 rakaat salam sekali. Jadi sholat tahajjud sebagaimana sholat sunnah
biasa hanya dilakukan di waktu malam dan sesudah bangun dari ridur, sebagaimana
hadits Nabi Muhammad SAW :
Artinya :
“Sholat malam itu adalah dua (rakaat), dua
(rakaat), apabila kamu khawatir akan masuknya waktu Shubuh maka berwitirlah
satu rakaat saja”. (HR. Bukhari Muslim)
4. Surat-surat Yang Dibaca
Mengenai
surat-surat yang dibaca sesudah membaca Fatihah pada tiap-tiap rakaat boleh
mana saja yang mudah, dalam Al Qur’an dinyatakan :
“…………bacalah
oleh kamu apa-apa ayat yang mudah daripada Al Qur’an”. (Q.S. Al Muzammil : 20)
II. TATA CARA DAN BACAAN
DALAM MENGERJAKAN SHOLAT TAHAJJUD
Setelah
berwudhu, kemudian berdiri tegak ditempat yang suci menghadap kiblat. Khusyu’kan
perasaan dan hati kita dipusatkan menghadap ke kiblat dihadapan Allah SWT, dan
beserta niat dalam hati.
2. Kemudian Takbiratul Ihram
Mengangkat
kedua tangan serta meletakkan ibu jari pada daun telinga, telapak tangan
dihadapkan kearah kiblat seraya membaca “Allahu Akbar”, setelah membaca takbir,
lantas tangan diletakkan di dada sebelah bawah diatas pusar perut, tangan kanan
diatas tangan kiri dengan sedekap, kemudian membaca do’a Iftitah.
3. Bacaan Do’a Iftitah yaitu
:
Artinya :
“Allah Maha Besar lagi Sempurna
Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan
sore. Kuhadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi
dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum
musyrikin. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata hanya
untuk Allah seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikian
aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan bagi-Nya, dan aku dari golongan
orang Muslimin”.
4. Surat Al Fatihah
Sesudah membaca do’a Iftitah, kemudian membaca surat
Fatihah, sbb :
Artinya :
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang
kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah
kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat”. (Q.S. Al Fatihah : 1-7)
5. Kemudian membaca salah
satu surat yang ada di dalam Al Qur’an, misalnya surat Al Ikhlas
Artinya :
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah
Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak
pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(Q.S. Al
Ikhlas : 1-4)Kemudian
rakaat yang kedua sesudah membaca surat Al Fatihah, lalu membaca surat Al Kaafiruun
Artinya :
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan
menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak
pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan
untukkulah, agamaku”. (Q.S. Al Kaafiruun : 1-6)
6. Ruku’
Selesai
membaca surat, lalu mengangkat kedua belah tangan setinggi telinga, kemudian ruku’
dengan penuh khusyu’ seraya membaca “Allahu Akbar”, lalu badan membungkuk,
kedua tangan memegang lutut dan ditekankan antara punggung dan kepala supaya
rata.
Pada
waktu ruku’ membaca :
Artinya :
“Maha Suci Tuhan yang Maha Agung, serta
segala pujian kepada-Nya”.
7. I’tidal
Selesai
ruku’ bangkitlah kembali dengan tegak sambil mengangkat kedua belah tangan
setinggi telinga sambil membaca :
Artinya :
“Allah mendengar orang yang memuji-Nya”.
Pada waktu berdiri tegak (I’tidal) seraya melepaskan
kedua tangan disamping badan, terus membaca :
Artinya :
“Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu segala puji,
sepenuh langit dan bumi, dan memenuhi segala barang yang Kau kehendaki sesudah
itu”.
8. Sujud
Setelah
I’tidal terus melakukan sujud (tersungkur ke bumi dengan meletakkan dahi ke
bumi) sambil membaca :
artinya :
“Allah Maha Besar”
Maka pada waktu sujud membaca tasbih sbb :
Artinya :
“Maha Suci Allah, serta pujianku kepada-Nya”.
9. Duduk antara dua sujudSetelah sujud kemudian duduk
seraya membaca
“Allah Maha Besar”
Maka pada waktu sujud membaca tasbih sbb :
Artinya :
“Maha Suci Allah, serta pujianku kepada-Nya”.
9. Duduk antara dua sujudSetelah sujud kemudian duduk
seraya membaca
Artinya :
“Allah Maha Besar”
Lalu pada waktu duduk di antara dua sujud membaca :
Artinya :
“Ya Allah, ampunilah dosaku, dan belas
kasihanilah aku dan luaskanlah aku, dan angkatlah derajatku, dan berilah rizqi
kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku, dan berilah
ampunan kepadaku”.
10. Sujud Kedua
Setelah
selesai membaca sebagaimana diatas, lalu sujud kembali sambil mengucapkan
“Allahu Akbar”. Sujud kedua ini sama seperti sujud pertama, kembali membaca
sebagaimana bacaan (tasbih), kemudian berdiri kembali sambil mengucapkan
“Allahu Akbar”, kemudian untuk memulai rakaat yang kedua juga dengan bacaan Al
Fatihah.
Selesai
membaca al Fatihah, maka bacalah salah satu surat yang pendek, misalnya : Al
Ashr, Al Falaq, An Naas. Setelah ruku’, I’tidal, sujud pertama, duduk diantara
dua sujud, kemudian sujud kedua, yang mana bacaannya sama sebagaimana rakaat
pertama. Tetapi, pada rakaat kedua ini, setelah menyelesaikan sujud kedua, kita
tidak berdiri tegak sebagaimana pada akhir rakaat yang pertama, tetapi kita
kembali duduk lagi, yaitu yang disebut duduk Tasyahud/tahyat akhir, maka
sama
11. Duduk Tasyahud/Tahyat Akhir
Pada
rakaat kedua ini, kita duduk untuk membaca tasyahud/tahyat akhir, dengan duduk
kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan, seraya membaca lafadznya tahyat
akhir, yaitu :sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.
Artinya :
“Segala kehormatan, keberkahan, kesejahteraan
dan segala kebaikan bagi Allah, salam rahmat dan berkah-Nya kupanjatkan
kepadamu wahai Nabi (Muhammad SAW). Semoga keselamatan untuk kami dan untuk
hamba-hamba Allah yang sholeh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah,
dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Ya Allah !
Limpahilah rahmat atas Nabi Muhammad dan atas keluarga Nabi Muhammad,
sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan
berilah keberkahan atas penghulu kami Nabi Muhammad SAW beserta para
keluarganya. Sebagaimana telah Engkau berikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim
dan keluarganya. Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji dan Maha
Mulia”.
12. Salam
Setelah
selesai tahyat akhir, kemudian salam dengan menengok ke kanan dan ke kiri
dengan membaca :Artinya :
“Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap atas pada
kamu sekalian”.
III. DO’A SESUDAH SHOLAT
TAHAJJUD
Dalam
hadits Bukhari dinyatakan, bahwa Rasulullah SAW, jika bangun tidur di tengah
malam, kemudian ber Tahajjud, Beliau membaca do’a sebagai berikut :
Artinya :
“Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau
penegak langit dan bumi dan alam semesta serta segala isinya, bagi-Mu lah
segala puji, Engkau raja penguasa langit dan bumi. Bagi-Mu lah segala puji,
pemancar cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu lah segala puji, Engkaulah yang haq
dan janji-Mu adalah benar, dan perjumpaan-Mu adalah hak benar, dan firman-Mu
adalah benar, dan surga adalah benar, dan neraka adalah benar, dan Nabi
Muhammad pun benar, demikian pula datangnya hari kiamat juga benar. Ya Allah,
kepada-Mu aku menyerah, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal,
kepada-Mu aku kembali, kepada-Mu pula aku mengadu, kepada-Mu pula aku mohon
keputusan. Karena itu, ampunilah dosa-dosaku yang terdahulu serta yang akan
dating, yang kusembunyikan maupun yang ku tampakkan. Engkaulah Tuhan yang
terdahulu dan Tuhan yang terakhir, tiada Tuhan melainkan Allah yang patut
disembah, serta tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.
Sesudah
membaca do’a tersebut di atas, maka perbanyaklah membaca Istighfar, adapun
Istighfar yang biasa dibaca oleh Rasulullah SAW adalah
Artinya :
“Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan
melainkan Engkau, Engkau Dzat yang telah menjadikan kami, dan kami adalah hamba
Engkau, dan kamipun dalam ketentuan Engkau, serta janjimu sedapat yang kami
kerjakan, kami mohon perlindungan-Mu dari kejahatan apa saja yang kami lakukan,
kami mengakui kenikmatan yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan kami juga
mengakui akan dosa kami, karena itu berilah ampunan kepada kami, sesungguhnya
tidak ada yang member pengampunan kecuali Engkau”.
Setelah itu bacalah do’a ini :
Artinya :
“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan
di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa neraka”.
Maka
setelah selesai membaca do’a-do’a tersebut sekiranya masih bisa menjalankan
maka bacalah ayat-ayat Al Qur’an seperti : surat Al Ikhlash, surat Al Falaq,
surat An Naas, surat Yaasiin atau membaca ayat kursi, dan mintalah dengan
sesungguhnya di hadapan Allah SWT diwaktu sholat Tahajjud, atas segala yang
engkau hajatkan (minta), Insya Allah dengan rahmat dan hidayah-Nya, Allah akan
mengabulkan segala do’a yang engkau mohonkan.
Amiin…Allahumma Amiin. Yuks, mari kita sholat
TAHAJJUD…
Kiat Agar Dapat Melakukan Shalat Tahajjud
Ada beberapa kiat yang dapat membantu seseorang
untuk bangun di malam hari guna melakukan shalat Tahajjud. Di antaranya adalah.
[1]. Mengetahui keutamaan shalat Tahajjud dan kedudukan
orang yang melakukannya di sisi Allah Ta’ala serta segala apa yang disediakan
baginya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, bagi mereka disediakan Surga.
Allah Ta’ala bersaksi terhadap mereka dengan
kesempurnaan iman, dan tidak sama antara mereka dengan orang-orang yang tidak
mengetahui. Shalat Tahajjud sebagai sebab masuk ke dalam Surga, ditinggikannya
derajat di dalamnya, dan shalat Tahajjud merupakan sifat hamba-hamba Allah yang
shalih serta kemuliaan bagi seorang Mukmin.
[2]. Mengetahui perangkap syaitan dan usahanya agar
manusia tidak melakukan shalat malam.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda
mengenai seorang laki-laki yang tidur hingga datang waktu fajar,
“Itulah seseorang yang syaitan telah kencing di
telinganya -atau beliau bersabda- di kedua telinganya.” [1]
‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma mengatakan,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Wahai ‘Abdullah, jangan kamu menjadi seperti si
fulan, dahulu ia biasa melakukan shalat malam, kemudian meninggalkannya” [2]
[3]. Memendekkan angan-angan dan banyak mengingat
mati.
Hal ini dapat memberi semangat untuk beramal dan
dapat menghilangkan rasa malas, berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar
radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang
asing atau orang yang sedang menyeberangi jalan.”
Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengatakan,
“Apabila berada di pagi hari, janganlah engkau menunggu waktu sore. Dan apabila
berada di sore hari, janganlah engkau menunggu waktu pagi. Pergunakanlah waktu
sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan pergunakan waktu hidupmu sebelum
datang kematianmu.” [3]
[4]. Tidur di awal malam agar memperoleh kekuatan
dan semangat yang dapat membantu untuk melakukan shalat Tahajjud dan shalat
Shubuh.
Hal ini berdasarkan hadits Abu Barzah radhiyallaahu
‘anhu.
“Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya’ dan berbincang-bincang
setelahnya.”[4]
[5]. Mempergunakan kesehatan dan waktu luang (dengan
melakukan amal shalih) agar pahala kebaikannya tetap ditulis pada saat ia sakit
atau sedang safar.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam,
“Apabila seorang hamba sakit atau safar, ditulislah
baginya pahala perbuatan yang biasa ia lakukan ketika mukim dan sehat.” [5]
Maka orang yang berakal hendaklah tidak terluput
dari keutamaan yang agung ini. Hendaklah ia melakukan shalat Tahajjud ketika
sedang sehat dan memiliki waktu luang serta melakukan berbagai amal shalih
sehingga ditulislah pahala baginya apabila ia lemah atau sibuk dari melakukan
amal kebaikan yang biasa ia lakukan.
[6]. Bersungguh-sungguh mengamalkan adab-adab
sebelum tidur.
Yaitu, dengan tidur dalam keadaan suci, apabila
masih mempunyai hadats hendaklah ia berwudhu’ dan shalat sunnah dua raka’at,
membaca dzikir sebelum tidur, mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu
ditiupkan serta dibacakan padanya surat al-Ikhlaash, al-Falaaq, dan an-Naas.
Kemudian usaplah dengan kedua tangannya itu seluruh anggota badan yang dapat
dijangkaunya (lakukan hal ini tiga kali). Jangan lupa juga membaca ayat Kursi,
dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, dan membaca do’a sebelum tidur. Dia
juga harus melakukan berbagai sebab yang dapat membangunkannya untuk shalat,
seperti meletakkan jam weker di dekat kepalanya atau dengan berpesan kepada
keluarganya atau temannya atau tetangganya untuk membangunkannya.
[7]. Memperhatikan sejumlah sebab yang dapat
membantu untuk melakukan shalat Tahajjud.
Yaitu, dengan tidak terlalu banyak makan, tidak
membuat badannya lelah dengan melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat, bahkan
seharusnya ia mengatur pekerjaannya yang bermanfaat, tidak meninggalkan tidur
siang karena itu dapat membantu bangun di malam hari, dan menjauhi dosa dan
maksiyat. Disebutkan dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah beliau berkata,
“Selama lima bulan aku terhalang untuk melakukan shalat malam karena dosa yang
aku lakukan.” [6]
[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan
Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa,
PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani
1428H/April 2007M]
__________
Foote Notes
[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari
(no. 1144, 3270) dan Muslim (no. 774), dari Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu
‘anhu.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari
(no. 1152) dan Muslim (no. 1159 (187)).
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari
(no. 6416), Ahmad (II/24, 132), at-Tirmidzi (no. 2333), Ibnu Majah (no. 4114),
dan al-Baihaqi (III/369).
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari
(no. 568) dan Muslim (no. 461), lafazh ini milik al-Bukhari.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari
(no. 2996), dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu
[6]. Lihat kitab Qiyaamul Lail, Fadhluhu wa
Aadaabuhu wal Asbaabul Mui’iinatu ‘alaihi fii Dhau-il Kitaabi was Sunnah (hal.
50-58).
Memahami Allah Maha Pemberi Rizki
Kita telah mengetahui bahwa Allah satu-satunya
pemberi rizki. Rizki sifatnya umum, yaitu segala sesuatu yang dimiliki hamba,
baik berupa makanan dan selain itu. Dengan kehendak-Nya, kita bisa merasakan
berbagai nikmat rizki, makan, harta dan lainnya. Namun mengapa sebagian orang
sulit menyadari sehingga hatinya pun bergantung pada selain Allah. Lihatlah di masyarakat
kita bagaimana sebagian orang mengharap-harap agar warungnya laris dengan
memasang berbagai penglaris. Agar bisnis komputernya berjalan mulus, ia datang
ke dukun dan minta wangsit, yaitu apa yang mesti ia lakukan untuk memperlancar
bisnisnya dan mendatangkan banyak konsumen. Semuanya ini bisa terjadi karena
kurang menyadari akan pentingnya aqidah dan tauhid, terurama karena tidak
merenungkan dengan baik nama Allah “Ar Rozzaq” (Maha Pemberi Rizki).
Allah Satu-Satunya Pemberi Rizki
Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemberi
rizki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu. Karena Allah Ta’ala berfirman,
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu.
Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari
langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu
dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)
Tidak ada yang berserikat dengan Allah dalam memberi
rizki. Oleh karena itu, tidak pantas Allah disekutukan dalam ibadah, tidak
pantas Allah disembah dan diduakan dengan selain. Dalam lanjutan surat Fathir,
Allah Ta’ala berfirman,
“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah
selain Allah; maka mengapakah engkau bisa berpaling (dari perintah beribadah
kepada Allah semata)?” (QS. Fathir: 3)
Selain Allah sama sekali tidak dapat memberi rizki.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang
tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan
tidak berkuasa (sedikit juapun).” (QS. An Nahl: 73)
Seandainya Allah menahan rizki manusia, maka tidak
ada selain-Nya yang dapat membuka pintu rizki tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia
berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja
yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya
sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir:
2). Itu memang benar, tidak mungkin ada yang dapat memberikan makan dan minum ketika
Allah menahan rizki tersebut.
Allah Memberi Rizki Tanpa Ada Kesulitan
Allah memberi rizki tanpa ada kesulitan dan sama
sekali tidak terbebani. Ath Thohawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya
berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rizki dan sama sekali tidak terbebani.”
Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Dia akan memberikan pada mereka
dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam
hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang
terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri
di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh
permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di
sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke
dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits
ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk
untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.”[1]
Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu,
niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak
pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu,
sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi?
Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.”
(HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993)
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Allah
sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rizki yang tak terhingga, yakni
melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.”[2]
Allah Menjadikan Kaya dan Miskin dengan Adil
Allah memiliki berbagai hikmah dalam pemberian
rizki. Ada yang Allah jadikan kaya dengan banyaknya rizki dan harta. Ada pula
yang dijadikan miskin. Ada hikmah berharga di balik itu semua. Allah Ta’ala
berfirman,
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian
yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)
Dalam ayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa
yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi
Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isro’: 30)
Dalam ayat kedua di atas, di akhir ayat Allah
berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat
akan hamba-hamba-Nya”. Ibnu Katsir menjelaskan maksud penggalan ayat terakhir
tersebut, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat manakah di
antara hamba-Nya yang pantas kaya dan pantas miskin.” Sebelumnya beliau
rahimahullah berkata, “Allah menjadikan kaya dan miskin bagi siapa saja yang
Allah kehendaki. Di balik itu semua ada hikmah.”[3]
Di tempat lain, Ibnu Katsir menerangkan firman
Allah,
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada
hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah
menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha
Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
Beliau rahimahullah lantas menjelaskan,“Seandainya Allah memberi hamba tersebut
rizki lebih dari yang mereka butuh , tentu mereka akan melampaui batas, berlaku
kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan lagi, “Akan
tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah
selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih
mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan
kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang
memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[4]
Dalam sebuah hadits disebutkan,
“Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah
menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya. Seandainya Allah membuat
ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik
jika Allah memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya,
tentu ia akan kufur”.[5] Hadits ini dinilai dho’if(lemah), namun maknanya
adalah shahih karena memiliki dasarshahih dari surat Asy Syuraa ayat 27.
Kaya Bukan Tanda Mulia, Miskin Bukan Tanda Hina
Ketahuilah bahwa kaya dan miskin bukanlah tanda
orang itu mulia dan hina. Karena orang kafir saja Allah beri rizki, begitu pula
dengan orang yang bermaksiat pun Allah beri rizki. Jadi rizki tidak dibatasi
pada orang beriman saja. Itulah lathif-nya Allah (Maha Lembutnya Allah).
Sebagaimana dalam ayat disebutkan,
“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia
memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha
Perkasa.” (QS. Asy Syura: 19)
Sifat orang-orang yang tidak beriman adalah
menjadikan tolak ukur kaya dan miskin sebagai ukuran mulia ataukah tidak. Allah
Ta’ala berfirman,
“Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai
harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali tidak akan diazab.
Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang
dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan
(pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang
memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka
kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga).”
(QS. Saba’: 35-37)
Orang-orang kafir berpikiran bahwa banyaknya harta
dan anak adalah tanda cinta Allah pada mereka. Perlu diketahui bahwa jika
mereka, yakni orang-orang kafir diberi rizi di dunia, di akherat mereka akan
sengsara dan diadzab. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyanggah pemikiran
rusak orang kafir tadi dalam firman-Nya,
“Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada
mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 56)
Bukanlah banyaknya harta dan anak yang mendekatkan
diri pada Allah, namun iman dan amalan sholeh. Sebagaiman dalam surat Saba’ di
atas disebutkan,
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula)
anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.” Penjelasan dalam
ayat ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan
harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian” (HR. Muslim no.
2564, dari Abu Hurairah)
Kaya bisa saja sebagai istidroj dari Allah, yaitu
hamba yang suka bermaksiat dibuat terus terlena dengan maksiatnya lantas ia
dilapangkan rizki. Miskin pun bisa jadi sebagai adzab atau siksaan. Semoga kita
bisa merenungkan hal ini.
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menerangkan firman
Allah,
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia
dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah
memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia
berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (QS. Al Fajr: 15-16); beliau rahimahullah
berkata, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam
memahami maksud Allah meluaskan rizki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu
sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rizki tersebut, itu berarti
Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak
yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan
kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al
Mu’minun: 55-56)
Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rizki, ia merasa
bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka.
Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rizki itu bisa jadi pada orang
yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan
rizki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak. Sebenarnya yang jadi
patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rizki adalah dilihat dari
ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang
berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka
inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.”[6]
Sebab Bertambah dan Barokahnya Rizki
Takwa kepada Allah adalah sebab utama rizki menjadi
barokah. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai Ahli Kitab,
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan
(hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari
Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki
mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. dan Alangkah buruknya
apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (QS. Al Maidah: 66)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman
dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi.” (QS. Al A’rof: 96)
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
Mengadakan baginya jalan keluark, dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)
“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus
di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka
air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al Jin: 16)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Sebab Berkurang dan Hilangnya Barokah Rizki
Kebalikan dari di atas, rizki bisa berkurang dan
hilang barokahnya karena maksiat dan dosa. Mungkin saja hartanya banyak, namun
hilang barokah atau kebaikannya. Karena rizki dari Allah tentu saja diperoleh
dengan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).” (QS. Ar Rum: 41). Yang dimaksudkan kerusakan di sini—kata
sebagian ulama– adalah kekeringan, paceklik, hilangnya barokah (rizki). Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Yang dimaksudkan kerusakan di sini adalah
hilangnya barokah (rizki) karena perbuatan hamba. Ini semua supaya mereka
kembali pada Allah dengan bertaubat.” Sedangkan yang dimaksud dengan kerusakan
di laut adalah sulitnya mendapat buruan di laut. Kerusakan ini semua bisa
terjadi karena dosa-dosa manusia.[7]
Yang Penting Berusaha dan Tawakkal
Keimanan yang benar rizki bukan hanya dinanti-nanti.
Kita bukan menunggu ketiban rizki dari langit. Tentu saja harus ada usaha dan
tawakkal, yaitu bersandar pada Allah. Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada
Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung
mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan
kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[8]
Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As Suyuthi mengatakan,
“Al Baihaqi mengatakan dalam Syu’abul Iman:
Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai,
enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan
dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi di
pagi hari untuk mencari rizki. Jadi, yang dimaksudkan dengan hadits ini
–wallahu a’lam-: Seandainya mereka bertawakkal pada Allah Ta’ala dengan pergi
dan melakukan segala aktivitas dalam mengais rizki, kemudian melihat bahwa
setiap kebaikan berada di tangan-Nya dan dari sisi-Nya, maka mereka akan
memperoleh rizki tersebut sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan
lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang. Namun ingatlah bahwa mereka
tidak hanya bersandar pada kekuatan, tubuh, dan usaha mereka saja, atau bahkan
mendustakan yang telah ditakdirkan baginya. Karena ini semua adanya yang
menyelisihi tawakkal.”[9]
Rizki yang Paling Mulia
Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah
berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita
berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang
Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan
pada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak
pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak
pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah sebutkan bagi
hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal
ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala,
“Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang
yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.” (QS. Saba’: 4)
“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan
mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS.
Ath Tholaq: 11)[10]
Jika setiap kita memahami hal ini, yang Allah
satu-satunya pemberi rizki dan sungguh Allah benar-benar yang terbaik bagi
kita, maka tentu saja kita tidak akan menggantungkan hati pada selain Allah
untuk melariskan bisnis. Allah Ta’ala sungguh benar-benar Maha Mencukupi. Allah
Maha Mengetahui manakah yang terbaik untuk hamba-Nya, sehingga ada yang Dia
jadikan kaya dan miskin. Setiap hamba tidak perlu bersusah payah mencari solusi
rizki dengan meminta dan menggantungkan hati pada selain-Nya. Tidak perlu lagi
bergantung pada jimat dan penglaris. Gantilah dengan banyak memohon dan meminta
kemudahan rizki dari Allah. Wallahu waliyyut taufiq. (*)
PANDUAN SHALAT TAHAJJUD
Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu 'ala
Rosulillah wa 'ala alihi wa shohbihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ilaa yaumid
diin.
Suatu kenikmatan yang sangat indah adalah bila
seorang hamba bisa merasakan bagaimana bermunajat dengan Allah di tengah malam
terutama ketika 1/3 malam terakhir. Berikut sedikit panduan dari kami mengenai
shalat tahajud.
Maksud Shalat Tahajud
Shalat malam (qiyamul lail) biasa disebut juga
dengan shalat tahajud. Mayoritas pakar fiqih mengatakan bahwa shalat tahajud
adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari secara umum setelah bangun
tidur.1
Keutamaan Shalat Tahajud
Pertama: Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa
dan calon penghuni surga.
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّالْمُتَّقِينَفِيجَنَّاتٍوَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَمَاآَتَاهُمْرَبُّهُمْإِنَّهُمْكَانُواقَبْلَذَلِكَمُحْسِنِينَ (16) كَانُواقَلِيلًامِنَاللَّيْلِمَايَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِهُمْيَسْتَغْفِرُونَ (18)
“Sesungguhnya orang-orang
yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,
sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu
di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit
sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum
fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).
Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini,
“Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari,
mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur
(menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”2
Kedua: Tidak sama antara orang yang shalat malam dan
yang tidak.
Allah Ta'ala berfirman,
أَمْمَنْهُوَقَانِتٌآَنَاءَاللَّيْلِسَاجِدًاوَقَائِمًايَحْذَرُالْآَخِرَةَوَيَرْجُورَحْمَةَرَبِّهِقُلْهَلْيَسْتَوِيالَّذِينَيَعْلَمُونَوَالَّذِينَلَايَعْلَمُونَإِنَّمَايَتَذَكَّرُأُولُوالْأَلْبَابِ
“(Apakah kamu hai orang
musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam
dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan
mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang
yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang
dimaksud qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan
khusu'.3
Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara
orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak
demikian?!”4 Jawabannya, tentu saja tidak sama.
Ketiga: Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat
sunnah.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُالصِّيَامِبَعْدَشَهْرِرَمَضَانَشَهْرُاللَّهِالْمُحَرَّمُوَأَفْضَلُالصَّلَاةِبَعْدَالْفَرِيضَةِصَلَاةُاللَّيْلِ
“Sebaik-baik puasa setelah
puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat
setelah shalat wajib adalah shalat malam.”5
An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, “Ini adalah
dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari lebih baik dari
shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang
satu madzhab dengan kami) di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham
dengannya, bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Sebagian
ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhol
(lebih utama) dari shalat malam karena kemiripannya dengan shalat wajib. Namun
pendapat pertama tetap lebih kuat dan sesuai dengan hadits. Wallahu a’lam.6
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Waktu tahajud di
malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba
semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu
langit dan terijabahinya (terkabulnya) do'a. Saat itu adalah waktu untuk
mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.”7
'Amr bin Al 'Ash mengatakan, “Satu raka'at shalat
sunnah di malam hari lebih baik dari 10 raka'at shalat sunnah di siang hari.”
Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya.8
Ibnu Rajab mengatakan, “Di sini 'Amr bin Al 'Ash
membedakan antara shalat malam dan shalat di siang hari. Shalat malam lebih
mudah dilakukan sembunyi-sembunyi dan lebih mudah mengantarkan pada
keikhlasan.”9 Inilah sebabnya para ulama lebih menyukai shalat malam karena
amalannya yang jarang diketahui orang lain.
Keempat: Shalat tahajud adalah kebiasaan orang
sholih.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْبِقِيَامِاللَّيْلِفَإِنَّهُدَأْبُالصَّالِحِيْنَقَبْلَكُمْوَهُوَقُرْبَةٌإِلَىرَبِّكُمْوَمُكَفِّرَةٌلِلسَّيِّئَاتِوَمَنْهَاةٌعَنِالإِثْمِ
“Hendaklah kalian
melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat amalan adalah kebiasaan
orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat
malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ”10
Kelima: Sebaik-baik orang adalah yang melaksanakan
shalat tahajud.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan
mengenai 'Abdullah bin 'Umar,
«نِعْمَالرَّجُلُعَبْدُاللَّهِ،لَوْكَانَيُصَلِّىبِاللَّيْلِ » . قَالَسَالِمٌفَكَانَعَبْدُاللَّهِلاَيَنَامُمِنَاللَّيْلِإِلاَّقَلِيلاً .
“Sebaik-baik orang adalah
'Abdullah (maksudnya Ibnu 'Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.”
Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin 'Umar tidak pernah
lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.”11
Waktu Shalat Tahajud
Shalat tahajud boleh dikerjakan di awal, pertengahan
atau akhir malam. Ini semua pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik -pembantu Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam- mengatakan,
مَاكُنَّانَشَاءُأَنْنَرَىرَسُولَاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفِياللَّيْلِمُصَلِّيًاإِلَّارَأَيْنَاهُوَلَانَشَاءُأَنْنَرَاهُنَائِمًاإِلَّارَأَيْنَاهُ
“Tidaklah kami bangun agar
ingin melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di malam hari
mengerjakan shalat kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami bangun
melihat beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula.”12
Ibnu Hajar menjelaskan,
إِنَّصَلَاتهوَنَوْمهكَانَيَخْتَلِفبِاللَّيْلِوَلَايُرَتِّبوَقْتًامُعَيَّنًابَلْبِحَسَبِمَاتَيَسَّرَلَهُالْقِيَام
“Sesungguhnya waktu shalat
malam dan tidur yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbeda-beda
setiap malamnya. Beliau tidak menetapkan waktu tertentu untuk shalat. Namun
beliau mengerjakannya sesuai keadaan yang mudah bagi beliau.”13
Waktu Utama untuk Shalat Tahajud
Waktu utama untuk shalat malam adalah di akhir
malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
يَنْزِلُرَبُّنَاتَبَارَكَوَتَعَالَىكُلَّلَيْلَةٍإِلَىالسَّمَاءِالدُّنْيَاحِينَيَبْقَىثُلُثُاللَّيْلِالآخِرُفَيَقُولُمَنْيَدْعُونِىفَأَسْتَجِيبَلَهُوَمَنْيَسْأَلُنِىفَأُعْطِيَهُوَمَنْيَسْتَغْفِرُنِىفَأَغْفِرَلَهُ
“Rabb kami -Tabaroka wa
Ta'ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga
malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do'a pada-Ku,
maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan
memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya”.”14
Dari 'Abdullah bin 'Amr, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّأَحَبَّالصِّيَامِإِلَىاللَّهِصِيَامُدَاوُدَوَأَحَبَّالصَّلاَةِإِلَىاللَّهِصَلاَةُدَاوُدَعَلَيْهِالسَّلاَمُكَانَيَنَامُنِصْفَاللَّيْلِوَيَقُومُثُلُثَهُوَيَنَامُسُدُسَهُوَكَانَيَصُومُيَوْمًاوَيُفْطِرُيَوْمًا
“Sesungguhnya sebaik-baik
puasa di sisi Allah adalah puasa Daud15 dan sebaik-baik shalat di sisi Allah
adalah shalatnya Nabi Daud 'alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam
dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada
seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya
tidak berpuasa.”16
'Aisyah pernah ditanyakan mengenai shalat malam yang
dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 'Aisyah menjawab,
كَانَيَنَامُأَوَّلَهُوَيَقُومُآخِرَهُ،فَيُصَلِّىثُمَّيَرْجِعُإِلَىفِرَاشِهِ،فَإِذَاأَذَّنَالْمُؤَذِّنُوَثَبَ،فَإِنْكَانَبِهِحَاجَةٌاغْتَسَلَ،وَإِلاَّتَوَضَّأَوَخَرَجَ
“Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian
beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika
terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat,
beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).”17
Shalat Tahajud Ketika Kondisi Sulit
Bermunajatlah pada Allah di akhir malam ketika
kondisi begitu sulit.
'Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan,
رَأَيْتُنَالَيْلَةَبَدْرٍوَمَامِنَّاإِنْسَانٌإِلاَّنَائِمٌإِلاَّرَسُولَاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- فَإِنَّهُكَانَيُصَلِّىإِلَىشَجَرَةٍوَيَدْعُوحَتَّىأَصْبَحَوَمَاكَانَمِنَّافَارِسٌيَوْمَبَدْرٍغَيْرَالْمِقْدَادِبْنِالأَسْوَدِ
“Kami pernah memperhatikan
pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali
Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah
pohon. Beliau memanjatkan do'a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di
antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al
Aswad.”18 Dalam riwayat lain disebutkan,
يُصَلِّىوَيَبْكِىحَتَّىأَصْبَحَ
“Beliau melaksanakan shalat
sambil menangis hingga waktu shubuh.”19
Jumlah Raka'at Shalat Tahajud yang Dianjurkan
(Disunnahkan)
Jumlah raka'at shalat tahajud yang dianjurkan adalah
tidak lebih dari 11 atau 13 raka'at. Dan inilah yang menjadi pilihan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam.
'Aisyah mengatakan,
مَاكَانَيَزِيدُفِىرَمَضَانَوَلاَغَيْرِهِعَلَىإِحْدَىعَشْرَةَرَكْعَةً،يُصَلِّىأَرْبَعَرَكَعَاتٍفَلاَتَسْأَلْعَنْحُسْنِهِنَّوَطُولِهِنَّ،ثُمَّيُصَلِّىأَرْبَعًافَلاَتَسْأَلْعَنْحُسْنِهِنَّوَطُولِهِنَّ،ثُمَّيُصَلِّىثَلاَثًا
“Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan
bulan lainnya lebih dari 11 raka'at. Beliau melakukan shalat empat raka'at,
maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan
shalat empat raka'at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya.
Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka'at.”20
Ibnu 'Abbas mengatakan,
كَانَصَلاَةُالنَّبِىِّ - صلىاللهعليهوسلم - ثَلاَثَعَشْرَةَرَكْعَةً . يَعْنِىبِاللَّيْلِ
“Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka'at. ”21
Zaid bin Kholid Al Juhani mengatakan,
لأَرْمُقَنَّصَلاَةَرَسُولِاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- اللَّيْلَةَفَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِخَفِيفَتَيْنِثُمَّصَلَّىرَكْعَتَيْنِطَوِيلَتَيْنِطَوِيلَتَيْنِطَوِيلَتَيْنِثُمَّصَلَّىرَكْعَتَيْنِوَهُمَادُونَاللَّتَيْنِقَبْلَهُمَاثُمَّصَلَّىرَكْعَتَيْنِوَهُمَادُونَاللَّتَيْنِقَبْلَهُمَاثُمَّصَلَّىرَكْعَتَيْنِوَهُمَادُونَاللَّتَيْنِقَبْلَهُمَاثُمَّصَلَّىرَكْعَتَيْنِوَهُمَادُونَاللَّتَيْنِقَبْلَهُمَاثُمَّأَوْتَرَفَذَلِكَثَلاَثَعَشْرَةَرَكْعَةً.
“Aku pernah memperhatikan
shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau pun melaksanakan 2 raka'at ringan. Kemudian setelah itu beliau
laksanakan 2 raka'at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2
raka'at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2
raka'at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2
raka'at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2
raka'at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir
sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 raka'at.”22 Ini
berarti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan witir dengan 1
raka'at.23
Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan sebelum
shalat malam, dibuka dengan 2 raka'at ringan terlebih dahulu. 'Aisyah
mengatakan,
كَانَرَسُولُاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- إِذَاقَامَمِنَاللَّيْلِلِيُصَلِّىَافْتَتَحَصَلاَتَهُبِرَكْعَتَيْنِخَفِيفَتَيْنِ.
“Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih
dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak'at yang ringan.”24
Bolehkah Menambahkan Raka'at Shalat Malam Lebih Dari
11 Raka'at?
Al Qodhi 'Iyadh mengatakan,
وَلَاخِلَافأَنَّهُلَيْسَفِيذَلِكَحَدّلَايُزَادعَلَيْهِوَلَايَنْقُصمِنْهُ،وَأَنَّصَلَاةاللَّيْلمِنْالطَّاعَاتالَّتِيكُلَّمَازَادَفِيهَازَادَالْأَجْر،وَإِنَّمَاالْخِلَاففِيفِعْلالنَّبِيّصَلَّىاللَّهعَلَيْهِوَسَلَّمَوَمَااِخْتَارَهُلِنَفْسِهِ
“Tidak ada khilaf bahwa tidak
ada batasan jumlah raka'at dalam shalat malam, tidak mengapa ditambah atau
dikurang. Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan yang apabila
seseorang menambah jumlah raka'atnya maka bertambah pula pahalanya. Jika
dilakukan seperti ini, maka itu hanya menyelisihi perbuatan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam dan menyelisihi pilihan yang beliau pilih untuk dirinya
sendiri.”25
Ibnu 'Abdil Barr mengatakan,
فلاخلافبينالمسلمينأنصلاةالليلليسفيهاحدمحدودوأنهانافلةوفعلخيروعملبرفمنشاءاستقلومنشاءاستكثر
“Tidak ada khilaf di antara
kaum muslimin bahwa shalat malam tidak ada batasan raka'atnya. Shalat malam
adalah shalat nafilah (shalat sunnah) dan termasuk amalan kebaikan. Seseorang
boleh semaunya mengerjakan dengan jumlah raka'at yang sedikit atau pun
banyak.”26
Adapun dalil yang menunjukkan bolehnya menambah
lebih dari 11 raka'at, di antaranya:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya mengenai
shalat malam, beliau menjawab,
صَلاَةُاللَّيْلِمَثْنَىمَثْنَى،فَإِذَاخَشِىَأَحَدُكُمُالصُّبْحَصَلَّىرَكْعَةًوَاحِدَةً،تُوتِرُلَهُمَاقَدْصَلَّى
“Shalat malam itu dua
raka'at-dua raka'at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu
shubuh, maka kerjakanlah satu raka'at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat
tadi dengan witir.”27 Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat
malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan
menjelaskannya.
Lalu bagaimana dengan hadits 'Aisyah,
مَاكَانَيَزِيدُفِىرَمَضَانَوَلاَغَيْرِهِعَلَىإِحْدَىعَشْرَةَرَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan
bulan lainnya lebih dari 11 raka'at. ”28
Jawabannya adalah sebagai berikut:
Jika ingin mengikuti sunnah (ajaran) Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, maka mestinya mencocoki beliau dalam jumlah
raka'at shalat juga dengan tata cara shalatnya.
Sedangkan shalat yang paling bagus, kata Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam adalah,
أَفْضَلُالصَّلاَةِطُولُالْقُنُوت
“Shalat yang paling baik
adalah yang paling lama berdirinya.”29
Namun sekarang yang melakukan 11 raka'at demi
mencontoh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melakukan lama seperti
beliau. Padahal jika kita ingin mencontoh jumlah raka'at yang dilakukan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam seharusnya juga lama shalatnya pun sama.
Sekarang pertanyaannya, manakah yang lebih utama
melakukan shalat malam 11 raka'at dalam waktu 1 jam ataukah shalat malam 23
raka'at yang dilakukan dalam waktu dua jam atau tiga jam?
Yang satu mendekati perbuatan Nabi shallalahu
'alaihi wa sallam dari segi jumlah raka'at. Namun yang satu mendekati ajaran
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari segi lamanya. Manakah di antara kedua
cara ini yang lebih baik?
Jawabannya, tentu yang kedua yaitu yang shalatnya
lebih lama dengan raka'at yang lebih banyak. Alasannya, karena pujian Allah
terhadap orang yang waktu malamnya digunakan untuk shalat malam dan sedikit
tidurnya. Allah Ta'ala berfirman,
كَانُواقَلِيلًامِنَاللَّيْلِمَايَهْجَعُونَ
“Di dunia mereka sedikit
sekali tidur diwaktu malam.” (QS. Adz Dzariyat: 17)
وَمِنَاللَّيْلِفَاسْجُدْلَهُوَسَبِّحْهُلَيْلًاطَوِيلًا
“Dan pada sebagian dari
malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang
panjang dimalam hari.” (QS. Al Insan: 26)
Oleh karena itu, para ulama ada yang melakukan
shalat malam hanya dengan 11 raka'at namun dengan raka'at yang panjang. Ada
pula yang melakukannya dengan 20 raka'at atau 36 raka'at. Ada pula yang kurang
atau lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti
maksud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu dengan mengerjakan shalat malam
dengan thulul qunut (berdiri yang lama).
Sampai-sampai sebagian ulama memiliki perkataan yang
bagus, “Barangsiapa yang ingin memperlama berdiri dan membaca surat dalam
shalat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan raka'at yang sedikit. Namun
jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah ia menambah
raka'atnya.”
Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? Karena
yang jadi patokan adalah lama berdiri di hadapan Allah ketika shalat malam.
-Demikianlah faedah yang kami dapatkan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al
'Adawi dalam At Tarsyid-30
Qodho' bagi yang Luput dari Shalat Tahajud karena
Udzur
Bagi yang luput dari shalat tahajud karena udzur
seperti ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqodho'nya di siang hari sebelum
Zhuhur.
'Aisyah mengatakan,
أَنَّرَسُولَاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- كَانَإِذَافَاتَتْهُالصَّلاَةُمِنَاللَّيْلِمِنْوَجَعٍأَوْغَيْرِهِصَلَّىمِنَالنَّهَارِثِنْتَىْعَشْرَةَرَكْعَةً.
“Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, jika beliau luput dari shalat malam karena tidur
atau udzur lainnya, beliau mengqodho'nya di siang hari dengan mengerjakan 12
raka'at.”31
'Umar bin Khottob mengatakan bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْنَامَعَنْحِزْبِهِأَوْعَنْشَىْءٍمِنْهُفَقَرَأَهُفِيمَابَيْنَصَلاَةِالْفَجْرِوَصَلاَةِالظُّهْرِكُتِبَلَهُكَأَنَّمَاقَرَأَهُمِنَاللَّيْلِ
“Barangsiapa yang tertidur
dari penjagaannya atau dari yang lainnya, lalu ia membaca apa yang biasa ia
baca di shalat malam antara shalat shubuh dan shalat zhuhur, maka ia dicatat
seperti membacanya di malam hari.”32
Demikian pembahasan ringkas kami mengenai shalat
tahajud. Kami masih akan membahas kiat-kiat bangun shalat tahajud dan panduan
shalat witir -insya Allah-. Semoga Allah mudahkan.
Semoga kita semakin terbimbing dengan sajian ringkas
ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan sekaligus merutinkannya.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala
kebaikan menjadi sempurna.
Langganan:
Postingan (Atom)


